Tips Anak Biasa Minta Maaf
October 27th, 2008
Sudah merupakan sifat manusia sulit mengakui suatu kesalahan. Apalagi sesorang minta maaf atas kesalahan kesalahan yang diperbuat. Sebenarnya mengakui kesalahan dan minta maaf adalh suatu perbuatan mulia baik disisi Alloh maupun sesama manusia sendir.
Melaukan kesalahan sendiri merupakan suatu kodrat manusia yang diberikan Penciptanya yaitu sifat lupa dan melakukan kesahalan atau khilaf. Sifat minta maaf dapat dilakukan apabila sifat mengakui kesalahan tersebut ditanmkan sejak dini yaitu sejak usia anak. Berikut ini tips agar anak terbiasa meminta maaf apabila mengerjakan suatu kesalahan terhadap orang lain :
- Contoh Langsung
Contohkan bagaimana seharusnya kata maaf diucapkan. Misal, orang tua tak sengaja menumpahkan susu anak, katakan, “Maaf ya, Sayang, Mama tidak sengaja menumpahkan susumu.” Begitu juga dengan kesalahan lain yang dilakukan. Dengan demikian diharapkan anak terbiasa melihat orang-orang terdekatnya mengucapkan maaf manakala melakukan kesalahan. - Tunjukkan Penyesalan Dengan Bahasa Tubuh
Lakukan kontak mata saat mengucapkan kata maaf, sehingga anak bisa merasakan penyesalan yang mengiringi permintaan maaf itu. Menggenggam tangan, memeluk erat, atau mencium juga akan dicontoh anak saat orangtua minta maaf dengan bahasa tubuh seperti itu. Namun sebagai catatan, tegaskan padanya bahwa pelukan dan ciuman penyesalan hanya boleh diberikan pada papa/mama/kakak/adik, sedangkan untuk teman/saudara/orang lain cukup dengan bersalaman. Bahasa tubuh juga efektif untuk batita yang komunikasi verbalnya belum lancar sehingga belum bisa mengucapkan kata maaf. - Dorong Supaya Bertanggung Jawab
Selain mengucapkan maaf, minta anak untuk “bertanggung jawab” atas kesalahan yang dilakukannya. Umpama, ia menyenggol temannya sampai jatuh. Nah setelah minta maaf, jika temannya terluka, minta si kecil menyodorkan tisu/plester. Ini sebagai bagian dari pembelajaran tentang tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan. - Berikan Apresiasi
Setelah anak mengucapkan kata maaf, berikan apresiasi dalam bentuk pujian, seperti, “Wah, pintar, kamu sudah bisa minta maaf.” Hal tersebut sekaligus sebagai penguatan bahwa yang dilakukannya sudah benar dan perlu diulanginya lagi di lain kesempatan.
Related posts:






No comments yet.